Skip navigation

28-05-2008 :

Desi Firdianti, mantan asisten anggota DPR RI, ditemani Sri Nurherwati, koordinator layanan hukum LBH Apik dan Fitria Lazarini dari konselor Yayasan Pulih, melakukan jumpa pers untuk memberikan klarifikasi mengenai pengaduannya ke Badan Kehormatan DPR RI di kantor Komnas Perempuan, Jakarta, Rabu (28/5). Desi Firdianti mengaku menjadi korban dugaan pelecehan seksual yang dilakukan oleh anggota DPR RI. Ia membantah telah melakukan pencurian laptop dan printer yang dituduhkan padanya. (sumber: Kompas.com)

Desi dikerjai di Ruang Kerja:

Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (LBH APIK) membantah wanita yang berpose syur dengan anggota DPR Max Moein (MM) adalah klien mereka yang bernama Desi Firdianti. Namun, melalui LBH Apik, Desi Firdianti mengakui bahwa dirinya memang mengalami pelecehan seksual.

“Kami sebenarnya sudah mengadukan kepada BK (Badan Kehormatan) DPR perihal adanya dugaan pelecehan seksual oleh MM kepada Desi sejak tahun lalu, namun BK sampai saat ini belum merespon,” ujar Koordinator Layanan Hukum LBH APIK Sri Nurherwati daam konferensi pers di Komnas Perempuan, Rabu (28/5).

Sri mengatakan, pelecehan tersebut dialami Desi mulai dari Mret 2005 hingga Maret 2006 selama menjadi asisten pribadi MM di ruang kerja MM. Namun, Sri dan teman-teman dari LBH APIK menolak untuk menjelaskan dengan detil mengenai perlakuan MM, anggota DPRI RI dari fraksi PDI-P demi kelancaran prosedur pengaduan berikutnya.

Sri menyesalkan juga sistem perekrutan, perlindungan, keamanan dan kesehatan terhadap asiten pribadi anggota Dewan yang berlaku saat ini tidak jelas karena perekrutan Desi pada saat itu haya melalui telepon. Melalui kuasa hukumnya pula, Desi yang tidak berbicara sepatah kta apapun dalam konpers yang dilakukan, mengaku baru munculkan prmasalahan ini sekarang karena dua alasan, yaitu tidak diresponinya surat pengaduannya oleh BK dan munculnya foto-foto yang diidentikkan dengan namanya.

Sri mengutarakan Desi mendatangi LBH APIK pada Juni 2007 dan pihaknya sudah mengirimkan surat pengaduan ke BK DPR sebanyak dua kali, tertanggal 22 Agustus dan 29 November 2007. Menurut Sri, kondisi Desi saat ini masih trauma karena begitu seringnya namanya disebutkan. “Dia masih semangat mendapatkan keadilan tapi secara psikologis mengalami trauma karena setahun tanpa respon dari BK sementara kesan anggota dewan itu baik dan terhormat,” tandas Sri. (sumber: Kompas.com)

 

3 Comments

  1. bravo rossi.aku mendukungmu.kapan mampir ke jember?

  2. yaampun pa, gini ya klakuan wakil rakyat, nggota dewan mah kelkuannya bejat, suka tidur ama cewe2 bakil

  3. wong edan rakyat kelaparan malah ngabisin duit rakyat dengan cara yang menjijikan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: